Sespimmen 67 Turun ke Tenggarong Seberang, Serap Keluhan Relawan Karhutla soal Minimnya Sarana Pemadam
Kukar – Pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tidak cukup hanya mengandalkan respons ketika api sudah membesar. Kesiapan personel, sarana pemadam, akses menuju titik api hingga keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting yang harus dibahas bersama.
Hal tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Pencegahan dan Penanggulangan Karhutla yang digelar Polsek Tenggarong Seberang bersama Siswa Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Menengah (Sespimmen) Lemdiklat Polri Dikreg ke-67 dan masyarakat di Balai Pertemuan Umum (BPU) Kecamatan Tenggarong Seberang, Jumat (11/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 14.30 WITA tersebut diikuti sekitar 100 peserta, melibatkan unsur pemerintah kecamatan, kepolisian, Pemadam Kebakaran (PMK), relawan Karhutla serta masyarakat.
Yang menarik, kehadiran 10 siswa Sespimmen 67 dalam forum tersebut bukan ditempatkan sebagai narasumber yang datang membawa teori. Mereka justru membuka ruang dialog untuk mendengar langsung pengalaman, kendala dan pola penanganan Karhutla dari petugas yang selama ini berada di garis depan.
Perwakilan Sespimmen 67 menyampaikan bahwa forum tersebut menjadi kesempatan untuk berdiskusi, bertukar pengalaman dan mempelajari secara langsung bagaimana PMK serta relawan di Tenggarong Seberang menghadapi kebakaran di lapangan.
“Kami bukan sebagai narasumber, tetapi ingin berdiskusi dan belajar dari pengalaman rekan-rekan PMK maupun relawan dalam menangani Karhutla,” penyampaian perwakilan Sespimmen dalam forum tersebut.
Pendekatan tersebut mendapat respons dari peserta. Salah satu persoalan yang mencuat adalah keterbatasan sarana pemadam untuk menjangkau titik api yang berada jauh dari akses kendaraan, termasuk kawasan perbukitan dan lahan gambut.
Ketua RT Manunggal Jaya, Andi, mempertanyakan langkah yang dapat dilakukan apabila titik api berada di atas bukit dan sulit dijangkau kendaraan pemadam.
Persoalan serupa disampaikan Udin dari unsur Damkar. Menurutnya, petugas masih menghadapi keterbatasan sarana, terutama pompa punggung atau peralatan pemadam portabel yang dapat digunakan ketika kendaraan PMK tidak mampu menjangkau lokasi kebakaran.
Kondisi tersebut juga dirasakan relawan. Bayu, relawan dari Bhuana Jaya, menyebut kelompoknya telah menerima bantuan alat pemadam punggung dari BPBD untuk penanganan kebakaran di lahan gambut maupun lokasi yang tidak dapat dijangkau kendaraan.
“Alat yang kami miliki hanya satu dan tentunya masih sangat kurang untuk operasional pemadaman,” menjadi salah satu persoalan yang mengemuka dalam diskusi.
Keterbatasan tersebut menunjukkan bahwa tantangan Karhutla di lapangan bukan hanya persoalan keberadaan personel, tetapi juga kemampuan menjangkau sumber api secara cepat dengan peralatan yang sesuai karakter medan.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, siswa Sespimmen 67 menyatakan akan menampung seluruh kendala yang disampaikan PMK dan relawan untuk selanjutnya didiskusikan dengan pimpinan.
Forum ini sekaligus memperlihatkan pentingnya membangun pola penanganan Karhutla yang berbasis pengalaman lapangan. Relawan dan petugas pemadam memiliki pengalaman menghadapi kondisi medan secara langsung, sementara forum FGD menjadi ruang untuk menyatukan pengalaman tersebut dengan perspektif kepemimpinan dan tata kelola penanggulangan bencana.
Kapolsek Tenggarong Seberang Iptu Rizky Tovas bersama jajaran turut mendampingi rangkaian kegiatan yang berlangsung hingga pukul 15.30 WITA tersebut.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, dilakukan pula penyerahan bantuan kepada pihak yang menjadi bagian dari kegiatan FGD.
Penyerahan tersebut menjadi bentuk dukungan dan kepedulian dalam pelaksanaan kegiatan bersama, sekaligus memperkuat semangat kolaborasi antara unsur kepolisian, pemerintah kecamatan, Sespimmen 67, petugas PMK, relawan dan masyarakat.




Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!