BNPT dan Densus 88 Perkuat Kolaborasi Lindungi Generasi Muda di Era Digital

Jakarta, 21 Mei 2026 — Kolaborasi antara Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Densus 88 Antiteror Polri terus diperkuat melalui pendekatan perlindungan anak, literasi digital, dan penguatan ketahanan masyarakat, sebagai bagian dari upaya membangun generasi muda yang adaptif menghadapi perkembangan ruang digital.

Penguatan sinergi tersebut mengemuka dalam bedah buku “Gamifikasi Kekerasan dalam Teror Modern di Era Digital” yang diselenggarakan pada Rabu, 20 Mei 2026 pukul 15.00 WIB di Hotel Bidakara, Jalan Gatot Subroto, Menteng Dalam, Jakarta Selatan, dan menghadirkan unsur pemerintah, aparat keamanan, akademisi, psikolog, serta pakar teknologi.

Kepala BNPT, Komjen Pol. (Purn.) Eddy Hartono, S.I.K., M.H., menegaskan bahwa membangun ketahanan masyarakat di era digital memerlukan keterlibatan seluruh elemen bangsa.

“Membangun ketahanan masyarakat merupakan tanggung jawab bersama. Keluarga, sekolah, pemerintah, komunitas, dan seluruh elemen bangsa memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang generasi muda,” ujar Komjen Pol. (Purn.) Eddy Hartono.

Menurut Kepala BNPT, upaya pencegahan yang berkelanjutan perlu diperkuat melalui pendidikan, penguatan literasi digital, dan deteksi dini berbasis komunitas, sehingga masyarakat memiliki kemampuan mengenali perubahan sosial dan meresponsnya secara tepat.

Ia menegaskan bahwa pendekatan tersebut sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018, yang menempatkan kesiapsiagaan nasional, kontra-radikalisasi, dan deradikalisasi sebagai bagian dari upaya bersama lintas sektor.

“Pencegahan yang efektif tumbuh dari lingkungan terdekat masyarakat. Karena itu, penguatan keluarga, sekolah, komunitas, dan ruang sosial menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan bersama,” jelas Kepala BNPT.

Sebagai bagian dari penguatan kolaborasi, BNPT terus mendorong keterlibatan berbagai unsur melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT), program berbasis komunitas, serta penguatan sistem edukasi dan literasi di daerah.

Sementara itu, Kadensus 88 AT Polri, Irjen Pol. Sentot Prasetyo, S.I.K., menekankan pentingnya perlindungan anak, pendampingan, dan penguatan ketahanan psikologis di tengah perkembangan ruang digital yang terus berubah.

“Anak perlu dipahami sebagai pihak yang harus dilindungi dan diperkuat ketahanannya. Karena itu, penguatan literasi digital, lingkungan sosial yang sehat, dan keterlibatan keluarga menjadi bagian penting dalam upaya perlindungan,” ujar Irjen Pol. Sentot Prasetyo.

Menurut Kadensus 88, pendekatan perlindungan akan semakin efektif melalui collaborative approach, yakni kolaborasi aktif antara keluarga, sekolah, pemerintah, akademisi, komunitas, dan masyarakat.

Pandangan tersebut mendapat penguatan dari para akademisi yang hadir dalam diskusi.

Psikolog Forensik Dr. Zora Arfina Sukabdi menilai penguatan perlindungan psikologis dan deteksi dini menjadi penting di tengah perubahan pola interaksi generasi muda.

“Pendekatan perlindungan dan deteksi dini terhadap anak menjadi semakin penting agar mereka memiliki ketahanan menghadapi berbagai tantangan sosial maupun digital,” ujar Dr. Zora Arfina Sukabdi.

Sementara Prof. Harkristuti Harkrisnowo, S.H., M.A., Ph.D., mengingatkan bahwa penguatan kebijakan perlu tetap mengedepankan hak asasi manusia dan pendekatan berbasis bukti ilmiah, sehingga perlindungan berjalan secara proporsional dan inklusif.

Dari perspektif psikologi, Dra. Adityana Kasandra Putranto menekankan pentingnya ketahanan mental dan dukungan lingkungan sebagai faktor protektif bagi generasi muda.

Sedangkan Dr. Ismail Fahmi menyoroti perlunya literasi digital dan edukasi publik berbasis data, agar masyarakat semakin siap memahami dinamika ruang digital secara lebih bijak.

Diskusi ini mempertegas satu pesan bersama: perlindungan generasi muda di era digital membutuhkan kolaborasi yang kuat antara negara, keluarga, sekolah, dan masyarakat.

“Kolaborasi yang kuat akan melahirkan ketahanan masyarakat yang kuat. Perlindungan generasi muda dimulai dari lingkungan terdekat mereka,” tutup Komjen Pol. (Purn.) Eddy Hartono.

Sinergi BNPT dan Densus 88 menegaskan bahwa membangun masa depan yang aman dimulai dari pendidikan, perlindungan, literasi digital, dan kolaborasi seluruh elemen bangsa.

Sempat Buang 4 Paket Narkotika Jenis Sabu, Tiga Pelaku Penyalahgunaan Sabu Diamankan Polsek Samboja

Kukar – Jajaran Polsek Samboja berhasil mengungkap kasus tindak pidana penyalahgunaan narkotika jenis sabu di wilayah hukum Polsek Samboja. Penangkapan dilakukan pada Selasa (19/05/2026) sekitar pukul 23.30 WITA di Rt.009 Desa Bringin Agung, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kukar.

Kapolres Kukar AKBP Khairul Basyar melalui Plh. Kapolsek Samboja IPTU Iwan Setiawan menyampaikan bahwa pengungkapan kasus ini berawal dari laporan masyarakat akan ada transaksi narkotika jenis sabu di wilayah Hukum Polsek Samboja.

“Menindaklanjuti informasi tersebut, tim opsnal Polsek Samboja langsung berhasil mengamankan 3 orang terduga pelaku,” ujar Plh Kapolsek.

Adapun ketiga tersangka yang berhasil diamankan oleh tim opsnal Polsek Samboja berinisial MA (34), TF (33) dan SG (46) dengan barang bukti yang berhasil diamankan yakni 4 plastik klip bening berisi serbuk kristal diduga narkotika jenis sabu dengan berat 1,87 gram dengan berat bersih 0,43 gram, 1 unit sepeda motor merk yamaha lexi dan 3 unit handphkne merk oppo, vivo dan infinix.

Lebih lanjut Kapolsek menjelaskan MA dan TF yang lebih dulu diamankan tim opsnal Polsek Samboja saat petugas melakukan penghentian kendaraan yang mereka gunakan di Rt.009 Desa Beringin Agung Kecamatan Samboja. Kemudian saat proses penghentian MA sempat mencoba kabur dan membuang 4 plastik klip bening di duga narkotika jenis sabu, namun berhasil ditemukan petugas.

“Saat dilakukan introgasi MA mengaku mendapatkan Narkotika jenis sabu dengan cara membeli di Samarinda dan disuruh oleh SG dengan diberi uang senilai Rp. 600.000,- (Enam Ratus Ribu Rupiah) melalui transfer dari rekening SG dan diberikan uang jalan sejumlah Rp.40.000,- (Empat Puluh Ribu Rupiah) yang habis dipakai untuk beli bensin, parkir serta diberikan keuntungan untuk menggunakan sabu bersama TF”, Terang IPTU Iwan Setiawan.

Selanjutnya, dikarenakan MA tidak memiliki kendaraan sehingga TF menawarkan kendaraannya untuk membeli narkotika jenis sabu di Samarinda. Lalu MA bersama TF berangkat ke Samarinda berdua, kemudian saat ditanyakan apakah pelaku memiliki izin atas narkotika jenis sabu yang dikuasainya. Pelaku mengakui tidak memiliki izin sehingga atas kejadian tersebut pelaku dan barang bukti dibawa ke Mako Polsek Samboja.

Kapolres Kukar Hadiri Penutupan Kejuaraan Judo Kapolri Cup 2026, Atlet Polres Kukar Raih 3 Medali Sekaligus

Kukar – Kapolres Kutai Kartanegara (Kukar) AKBP Khairul Basyar hadiri kegiatan Kejuaraan Judo Kapolri Cup 2026 yang secara resmi ditutup di GOR Segiri Samarinda, Rabu (20/5/2026).

Penutupan Kejuaraan Judo Kapolri Cup 2026 dihadiri oleh ratusan pejudo terbaik dam para pendukung yang selama lima hari terakhir menyaksikan pertandingan penuh persaingan dan sportivitas. Pada ajang bergengsi kali ini Polres Kukar mengirimkan atlet terbaiknya Bripda Gusti Ngurah Gede Kosy Virgo untuk berlaga di kelas -73 Kg.

Prestasi berhasil diraih oleh Bripda Gusti Ngurah Gede Kosy Virgo dengan berhasil meraih 3 medali sekaligus dengan torehan juara 3 perorangan kategori Polri, juara 2 beregu mix kategori Polri dan juara 3 Kategori umum.

Kapolres Kukar AKBP Khairul Basyar yang hadir langsung di acara penutupan Kejuaraan Judo Kapolri Cup 2026 tersebut turut memberikan ucapan selamat secara langsung dan menyampaikan rasa bangganya kepada Bripda Gusti Ngurah Gede Kosy Virgo atas prestasi yang diraihnya serta mampu bersaing dengan atlet unggul lainnya.

“Prestasi ini adalah buah dari hasil kerja keras, latihan dan kegigihan personel kami yang dimana prestasi ini membuktikan bahwa personel kami mampu bersaing dengan atlet lainnya”, jelas Kapolres.

Kapolres Kukar AKBP Khairul Basyar berharap prestasi yang diraih ini bisa menjadi motivasi dan semangat bagi seluruh personel Polres Kukar untum mengasah potensi dirinya dalam mengukir prestasi di bidang olahraga maupun kedinasan.

Selain itu, kontingen dari Polda Kaltim juga meraih beberapa medali perak dan perunggu untuk sejumlah kelas lainnya. Penyerahan piala juara umum dilakukan langsung oleh Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro kepada perwakilan kontingen terbaik.

Melalui Kegiatan Sambang, Polsek Loa Kulu Berikan Bantuan Sosial Kepada Para Nelayan Tempirai Muara Jembayan

Kukar – Dalam upaya mempererat hubungan antara kepolisian dan masyarakat, khususnya kalangan nelayan tempirai Muara Jembayan, Polsek Loa Kulu menggelar kegiatan sambang dan pemberian bantuan sosial (bansos) kepada warga nelayan tempirai Muara Jembayan Rt.01 Desa Jembayan Kecamatan Loa Kulu. Kegiatan ini dimulai pukul 10.00 WITA dan berlangsung dalam suasana penuh keakraban serta kepedulian sosial. Rabu (20/05/2026).

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kapolsek Loa Kulu AKP Hari Supranoto, selaku penanggung jawab kehiatan. Turut hadir dalam kegiatan tersebut jajaran personel Polsek Loa Kulu antara lain, Kanit Intel Aiptu Filman, Bhabinkamtibmas Desa Jembayan Bripka Indra, Kasi Kesra Desa Jembayan Aditya, Staf Desa Jembayan Rizky, Ketua Kelompok Nelayan Tempirai Ipan serta Para Nelayan Tempirai Muara Jembayan Rt.01.

Kegiatan ini dilakukan sebagai langkah preventif kepolisian dalam mencegah potensi gangguan keamanan serta mempererat sinergitas antara Polri dan masyarakat guna menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif.

Sebanyak 15 Karung Beras (5Kg) SPHP dibagikan secara langsung kepada para nelayan tempirai Muara Jembayan Rt.01. Penyaluran bantuan ini bertujuan untuk meringankan beban masyarakat nelayan tempirai Muara Jembayan Rt.01.

Kapolres Kukar AKBP Khairul Basyar Melalui Kapolsek Loa Kulu AKP Hari Supranoto menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk empati dan kepedulian kami kepada masyarakat, khususnya nelayan tempirai yang menjadi bagian penting dari kehidupan di Muara Jembayan. Kami berharap bantuan ini bisa sedikit meringankan kebutuhan harian mereka, serta semakin mempererat hubungan antara Polri dan masyarakat.

Selain sebagai bentuk kepedulian sosial, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara Polri dan warga, khususnya dalam menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Dengan adanya kedekatan emosional yang terbangun melalui kegiatan seperti ini, diharapkan dapat mengubah pandangan masyarakat terhadap Polri yang mana bisa semakin merasa nyaman dan terlindungi.

“Dengan semangat pengabdian dan pelayanan, Polsek Loa Kulu terus berkomitmen untuk hadir dan menjadi solusi atas berbagai permasalahan sosial yang dihadapi masyarakat, khususnya di wilayah hukum Polsek Loa Kulu”, Jelas Hari Supranoto.

Pada kesempatan yang sama, Kapolsek Loa Kulu AKP Hari Supranoto juga menghimbau masyarakat yang membutuhkan bantuan kepolisian atau ingin menyampaikan pengaduan untuk menghubungi Call Center Polri 110 yang aktif menerima laporan pengaduan selama 24 jam.

Polsek Muara Jawa Resmikan Jembatan Merah Putih Presisi, Dukung Pertumbuhan Wilayah Muara Jawa Ulu

Kukar – Polsek Muara Jawa meresmikan pembangunan Jembatan Merah Putih dengan panjang 4 meter dan lebar 2,5 meter di Kelurahan Muara Jawa Ulu, Kecamatan Muara Jawa, Kabupaten Kutai Kartanegara, Rabu (20/5/2026).

Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Plh. Kapolsek Muara Jawa IPTU Bagus Sukotjo, Lurah Muara Jawa Ulu Usman, Kanit Binmas IPTU Andri Febrianto, Koramil Sangasanga Serka Ariansyah, Bhabinkamtibmas Muara Jawa Ulu Aiptu Immanuel Maro, para personel Polsek Muara Jawa, dan masyarakat kelurahan Muara Jawa Ulu.

Kapolres Kukar AKBP Khairul Basyar melalui Plh. Kapolsek Muara Jawa IPTU Bagus Sukotjo menyampaikan bahwa pembangunan Jembatan Presisi Merah Putih ini diharapkan mampu memperlancar akses transportasi masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan wilayah Kecamatan Muara Jawa khususnya Kelurahan Muara Jawa ulu.

“Jembatan Presisi Merah Putih ini menjadi akses transportasi masyarakat menuju seluruh fasilitas sehingga semakin lancar ke depannya. Ini juga diharapkan mampu membangun pertumbuhan wilayah Kelurahan Muara Jawa Ulu dan Kecamatan Muara Jawa pada umumnya,” kata Kapolsek.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pembangunan jembatan tersebut, khususnya kepada warga Rt. 37 Kelurahan Muara Jawa ulu yang secara bersama-sama dan berkolaborasi dalam perbaikan serta peresmian jembatan Merah Putih Presisi ini.

“Kami mengucapkan apresiasi kepada seluruh pihak yang berperan, khususnya warga Rt. 37 Kelurahan Muara Jawa Ulu sehingga pembangunan berjalan baik dan lancar. Dengan adanya jembatan ini semoga bermanfaat bagi seluruh masyarakat,” ujarnya.

Kejuaraan Judo Kapolri Cup 2026 Resmi Ditutup, Polda Kaltim Raih Juara Umum III

Samarinda – Kejuaraan Judo Kapolri Cup 2026 resmi berakhir dalam suasana meriah dan penuh semangat di GOR Segiri Samarinda, Rabu (20/5/2026).

Penutupan ajang bergengsi tersebut dihadiri ratusan atlet, official, panitia, serta para pendukung yang selama lima hari terakhir menyaksikan pertandingan penuh persaingan dan sportivitas.

Ketua Judo Bhayangkara Irjen Pol. Daniel Adityajaya, S.I.K., M.H., M.Si dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas suksesnya penyelenggaraan kejuaraan yang berlangsung aman, tertib, dan penuh semangat persaudaraan.

Irjen Pol. Daniel juga memberikan apresiasi kepada seluruh peserta dan panitia yang telah menunjukkan dedikasi tinggi selama pelaksanaan turnamen berlangsung.

Menurutnya, olahraga judo bukan sekadar ajang meraih kemenangan, melainkan sarana membentuk karakter dan mental yang kuat bagi setiap atlet.

“Judo tidak hanya membentuk ketangguhan fisik, tetapi juga menanamkan nilai integritas, disiplin, dan semangat juang yang tinggi. Nilai-nilai tersebut sangat sejalan dengan tugas Bhayangkara dalam menjaga keamanan dan melayani masyarakat,” ujar Irjen Pol. Daniel.

Di akhir sambutan, Ketua Judo Bhayangkara juga menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh pemenang serta memberikan motivasi kepada para atlet agar terus mengembangkan kemampuan dan meraih prestasi yang lebih tinggi di tingkat nasional maupun internasional.

“Teruslah berlatih dan tingkatkan prestasi demi mengharumkan nama institusi Polri dan daerah masing-masing,” pesannya.

Dalam kejuaraan tersebut, persaingan berlangsung ketat di berbagai kelas putra dan putri. Polda Metro Jaya tampil dominan dengan meraih sejumlah medali emas dan berhasil keluar sebagai Juara Umum I. Posisi Juara Umum II diraih Polda Jawa Barat, sementara tuan rumah Polda Kalimantan Timur sukses menempati posisi Juara Umum III.

Sejumlah atlet Polda Kaltim juga berhasil mencatatkan prestasi membanggakan di berbagai kelas pertandingan. Pada kategori putra, Polda Kaltim meraih juara pertama di kelas -60 kilogram, serta beberapa posisi juara ketiga di kelas lainnya.

Sementara di kategori putri, atlet-atlet Polda Kaltim sukses meraih medali emas di kelas -48 kilogram dan beberapa medali perak maupun perunggu di sejumlah kelas pertandingan.

Penyerahan piala juara umum dilakukan langsung oleh Kapolda Kaltim kepada para perwakilan kontingen terbaik sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras dan pencapaian selama kejuaraan berlangsung.

Kejuaraan Judo Kapolri Cup 2026 diharapkan menjadi wadah pembinaan atlet Polri sekaligus mempererat soliditas dan sportivitas antarpersonel kepolisian dari berbagai daerah di Indonesia.

Humas Polda Kaltim

Tim Basket Polda Kaltim Awali Kapolri Cup 2026 dengan Kemenangan Meyakinkan

Jakarta – Tim Basket Polda Kalimantan Timur sukses membuka langkah di ajang Kapolri Cup 2026 dengan hasil positif pada laga perdana babak penyisihan yang digelar di Lapangan Basket MS Sport Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Pada pertandingan tersebut, tim basket Polda Kaltim tampil solid saat menghadapi tim dari Polda Sulawesi Tengah (Sulteng). Permainan disiplin dan kerja sama yang apik membawa Polda Kaltim meraih kemenangan dengan skor 43-31.

Sejak kuarter awal, skuad Polda Kaltim mampu mengendalikan ritme pertandingan melalui pertahanan rapat dan serangan cepat yang efektif. Keunggulan poin terus terjaga hingga peluit akhir dibunyikan, sekaligus memastikan kemenangan pertama bagi tim asal Kalimantan Timur di turnamen bergengsi antar jajaran kepolisian tersebut.

Keberhasilan ini menjadi modal penting bagi Polda Kaltim untuk menghadapi pertandingan berikutnya melawan Polda Banten yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu malam.

Semangat juang dan kekompakan tim diharapkan terus terjaga agar mampu kembali menampilkan performa terbaik pada laga selanjutnya. Dukungan penuh dari keluarga besar Polda Kaltim juga menjadi motivasi tambahan bagi para pemain untuk terus berjuang membawa nama baik institusi di tingkat nasional.

Melalui kerja keras, disiplin, dan sportivitas, tim basket Polda Kaltim optimistis dapat melangkah lebih jauh di ajang Kapolri Cup 2026 serta meraih hasil maksimal hingga membawa pulang gelar juara.

Humas Polda Kaltim

Peringati Harkitnas ke-118, Polda Kaltim Teguhkan Semangat Pengabdian dan Persatuan Bangsa

Polda Kalimantan Timur melaksanakan upacara memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 Tahun 2026 di lapangan Mapolda Kaltim, Rabu (20/5/2026).

Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk menumbuhkan kembali semangat persatuan, nasionalisme, serta komitmen pengabdian personel Polri dalam menjaga keamanan dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Upacara dipimpin oleh Irwasda Polda Kaltim Kombes Pol Aloysius Suprijadi, S.I.K., M.H., serta diikuti jajaran pejabat utama dan personel gabungan di lingkungan Polda Kaltim.

Dalam amanatnya, Irwasda menegaskan bahwa tema Hari Kebangkitan Nasional tahun ini, “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”, memiliki makna penting di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa saat ini.

Menurutnya, generasi muda harus terus dibina dan dijaga agar mampu tumbuh menjadi pribadi yang berintegritas, berwawasan kebangsaan, serta memiliki semangat cinta tanah air yang kuat.

Kombes Pol Aloysius menyebutkan bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas generasi penerus bangsa. Oleh sebab itu, seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab bersama untuk melindungi mereka dari berbagai pengaruh negatif yang dapat merusak persatuan dan nilai-nilai kebangsaan.

Selain ancaman konvensional, tantangan terhadap keutuhan bangsa saat ini juga datang melalui perkembangan teknologi, seperti penyebaran berita bohong, paham intoleran, radikalisme, hingga tindak kejahatan lintas negara berbasis digital.

Menghadapi kondisi tersebut, personel Polda Kaltim diminta untuk terus meningkatkan kemampuan profesional, memperkuat pelayanan kepada masyarakat, serta mengoptimalkan langkah deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.

Melalui langkah preventif dan edukasi kepada masyarakat, Polri diharapkan mampu berperan tidak hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai penguat kesadaran hukum dan pelindung generasi muda sebagai aset bangsa.

Di akhir amanatnya, pimpinan upacara menyampaikan penghargaan kepada seluruh personel Polda Kaltim beserta jajaran atas dedikasi dalam menjaga situasi kamtibmas tetap aman dan kondusif di wilayah Kalimantan Timur.

“Momentum Hari Kebangkitan Nasional ini diharapkan menjadi penyemangat bagi seluruh personel untuk terus bekerja secara profesional, menjaga nama baik institusi, serta meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada Polri,” pungkasnya.

Humas Polda Kaltim

Wakapolri: Ancaman Terorisme Berubah, Pencegahan, Collaborative Approach, dan Perlindungan Generasi Muda Jadi Kunci Keamanan Masa Depan

Jakarta, 20 Mei 2026 — Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri), Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, S.H., M.Hum., M.Si., M.M., menegaskan bahwa ancaman terorisme dan ekstremisme saat ini telah mengalami perubahan mendasar, dari pola terstruktur menuju jejaring digital yang lebih cair, adaptif, dan sulit dikenali dengan pendekatan konvensional.

Pesan tersebut disampaikan Wakapolri dalam rangkaian Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Densus 88 Antiteror Polri Tahun Anggaran 2026, yang dihadiri langsung oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol. (Purn.) Eddy Hartono, S.I.K., M.H., serta Kadensus 88 AT Polri, Irjen Pol. Sentot Prasetyo, S.I.K., sebagai bentuk penguatan sinergi nasional menghadapi ancaman ekstremisme yang terus bertransformasi.

Rakernis Densus 88 AT Polri tahun ini menjadi momentum memperkuat arah kebijakan penanggulangan terorisme Indonesia yang semakin menitikberatkan pada pencegahan dini, perlindungan anak, penguatan literasi digital, serta pendekatan kolaboratif (collaborative approach) lintas sektor, seiring perkembangan ancaman yang bergerak lebih cepat dibanding pola penanganan sebelumnya.

Dalam arahannya, Wakapolri menegaskan bahwa seluruh strategi penanganan terorisme harus berpijak pada Grand Strategy Polri 2025–2045 dan selaras dengan Renstra Polri 2025–2029, guna memastikan efektivitas dan keberlanjutan kebijakan menghadapi tantangan masa depan.

“Kita sedang menghadapi perubahan besar. Ancaman tidak lagi selalu hadir dalam bentuk organisasi besar yang mudah dipetakan, tetapi berkembang melalui ruang digital, simpatisan lepas, hingga jejaring yang dibentuk oleh algoritma. Karena itu, strategi kita juga harus berubah,” ujar Wakapolri.

Menurut Wakapolri, ekstremisme modern kini semakin terfragmentasi, bergerak melalui individu atau kelompok kecil tanpa struktur formal, namun terkonsolidasi melalui paparan digital dan lingkungan sosial.

Ia menjelaskan bahwa ideologi pelaku tidak lagi selalu hadir sebagai doktrin tunggal yang utuh, tetapi berupa fragmen ideologi yang bercampur sesuai kebutuhan psikologis dan sosial individu. Karena itu, pendekatan lama dalam memahami ekstremisme perlu dilengkapi dengan perspektif baru seperti Composite Violent Extremism (CoVE) untuk membaca ancaman yang ambigu dan konvergen.

Selain itu, Wakapolri mengingatkan bahwa ekstremisme saat ini bersifat “glocal”, ketika arus informasi global dapat dengan cepat memengaruhi dinamika sosial lokal melalui media digital.

“Ancaman tidak lagi bisa dipahami secara terpisah antara dimensi global dan lokal. Arus informasi bergerak cepat dan dapat memengaruhi lingkungan sosial dalam waktu singkat,” tegasnya.

Salah satu perhatian utama yang disampaikan Wakapolri adalah meningkatnya kerentanan generasi muda terhadap paparan ekstremisme dan normalisasi kekerasan di ruang digital.

Data Densus 88 AT Polri per 19 Mei 2026 mencatat 115 anak tergabung dalam True Crime Community (TCC) dan 132 anak terpapar radikalisme di berbagai wilayah Indonesia. Menurut Wakapolri, angka tersebut harus dipahami sebagai fenomena gunung es, sehingga pencegahan perlu dilakukan sejak awal sebelum berkembang menjadi ancaman yang lebih besar.

“Kebijakan kontra-ekstremisme yang menyentuh anak harus dibangun dari logika perlindungan dini, bukan logika penindakan dini,” kata Wakapolri.

Ia menegaskan bahwa anak perlu dipahami secara bersamaan sebagai korban sekaligus aktor, sehingga pendekatan yang digunakan harus bersifat rehabilitatif, protektif, dan berbasis perlindungan, bukan semata punitif.

Untuk itu, Densus 88 AT Polri diarahkan menggunakan pendekatan ekologi berlapis (socioecological model), yang mengintegrasikan keluarga, sekolah, komunitas, pemerintah, dan ruang digital sebagai sistem perlindungan bersama.

Konsep tersebut diwujudkan melalui pembangunan ekosistem “Rumah Aman menuju Sekolah Aman”, di mana Polri berperan sebagai penghubung koordinasi lintas pihak dalam mendeteksi serta mencegah potensi risiko sejak awal.

Dalam kesempatan tersebut, Wakapolri juga menekankan bahwa ancaman ekstremisme masa kini tidak dapat dihadapi oleh satu institusi secara mandiri. Pendekatan yang dibutuhkan adalah collaborative approach, yakni kolaborasi aktif dan berkelanjutan antara aparat keamanan, kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, sekolah, keluarga, tokoh agama, komunitas, akademisi, platform digital, hingga masyarakat sipil.

“Ancaman ekstremisme tidak dapat diputus oleh satu institusi. Ia harus dihadapi melalui sinergi utuh antara Polri, kementerian, pemerintah daerah, sekolah, keluarga, dan masyarakat. Keamanan masa depan dibangun melalui kolaborasi,” tegas Wakapolri.

Pendekatan kolaboratif tersebut dinilai menjadi fondasi penting menghadapi ancaman yang kini bersifat multidimensional, lintas platform, dan lintas batas negara, sekaligus memperkuat ketahanan sosial masyarakat sebagai benteng utama pencegahan.

Dalam kesempatan yang sama, Wakapolri juga mengapresiasi langkah preventif yang telah dilakukan Ditcegah Densus 88, di antaranya penguatan Direktorat PPA-PPO di 11 Polda dan 22 Polres, program edukasi di 90 SMAN DKI Jakarta yang menjangkau 31.234 siswa dan 1.300 guru serta orang tua, program Ratakan Bali Pro Max di 70 sekolah dengan 9.950 peserta, hingga penerbitan 70 surat edaran pembatasan penggunaan gawai di sekolah yang tersebar di 33 provinsi.

Kehadiran langsung Kepala BNPT dalam Rakernis turut memperkuat pesan bahwa penanggulangan terorisme membutuhkan orkestrasi kebijakan nasional, menghubungkan pencegahan, deradikalisasi, literasi publik, penegakan hukum, dan penguatan masyarakat dalam satu ekosistem keamanan yang terpadu.

Sementara itu, Kadensus 88 AT Polri menegaskan bahwa Densus 88 terus memperkuat strategi penanggulangan yang lebih adaptif dengan mengedepankan deteksi dini, asesmen risiko, dan penguatan ketahanan generasi muda, seiring perubahan pola ancaman di era digital.

Rakernis Densus 88 AT Polri Tahun Anggaran 2026 menjadi ruang strategis untuk menyusun arah kebijakan menghadapi ancaman ekstremisme yang berubah cepat, sekaligus memperkuat transformasi kelembagaan menuju pendekatan prediktif, preventif, humanis, dan berbasis ilmu pengetahuan, sejalan dengan Transformasi Polri.

Menutup arahannya, Wakapolri menegaskan prinsip utama strategi penanggulangan ancaman masa depan:

“Negara tidak boleh hanya datang saat api sudah membesar; pencegahan sosial harus hadir lebih awal, sedangkan penegakan hukum menjadi langkah terakhir yang terukur.”

Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa keamanan masa depan dibangun melalui kemampuan membaca perubahan, memperkuat ketahanan masyarakat, membangun kolaborasi, dan menghadirkan pencegahan sebelum ancaman berkembang menjadi risiko nyata.

Rakernis Densus 88 AT Polri 2026 menegaskan satu hal: menghadapi ancaman baru, negara membutuhkan cara kerja baru — lebih kolaboratif, lebih adaptif, dan lebih dekat dengan masyarakat.

Catatan Kritis Para Akademisi dalam Rakernis Densus 88: Terorisme Kini Tak Lagi Bergerak dengan Cara Lama

Jakarta, 20 Mei 2026 — Ancaman terorisme dan ekstremisme berbasis kekerasan terus mengalami perubahan. Jika dahulu ancaman identik dengan organisasi tertutup, doktrin ideologi yang kaku, dan pola rekrutmen konvensional, kini ancaman berkembang lebih cair melalui ruang digital, algoritma, komunitas virtual, hingga kerentanan psikologis generasi muda.

Perubahan wajah ancaman tersebut menjadi perhatian utama dalam Bedah Buku “Gamifikasi Kekerasan dalam Teror Modern di Era Digital” pada rangkaian Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Densus 88 Antiteror Polri Tahun Anggaran 2026, yang dihadiri langsung oleh Wakapolri, Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, S.H., M.Hum., M.Si., M.M.; Kepala BNPT, Komjen Pol. (Purn.) Eddy Hartono, S.I.K., M.H.; serta Kadensus 88 AT Polri, Irjen Pol. Sentot Prasetyo, S.I.K.

Forum tersebut menjadi ruang bertemunya perspektif keamanan, psikologi, hukum, teknologi, dan perlindungan anak untuk membaca ancaman terorisme modern yang dinilai bergerak lebih cepat dibanding pola penanganan konvensional.

Dalam pemaparannya, Wakapolri menegaskan bahwa perubahan ancaman harus direspons dengan perubahan cara berpikir dan strategi pencegahan.

“Kita sedang menghadapi ancaman yang tidak lagi selalu tumbuh melalui organisasi besar dengan struktur formal, tetapi bergerak melalui ruang digital, algoritma, dan fragmen ideologi yang sulit dipetakan. Negara tidak boleh hanya hadir saat api sudah membesar; pencegahan sosial harus hadir lebih awal, sedangkan penegakan hukum menjadi langkah terakhir yang terukur,” ujar Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo.

Menurut Wakapolri, mitigasi embrio terorisme tidak dapat hanya mengandalkan penindakan, tetapi harus memperkuat literasi digital, perlindungan anak, dan kemampuan masyarakat membaca risiko sejak dini.

Sementara itu, Kepala BNPT, Komjen Pol. (Purn.) Eddy Hartono, menegaskan bahwa perubahan ancaman ekstremisme menuntut sinergi nasional yang lebih kuat.

“Terorisme dan ekstremisme tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan satu institusi. Ancaman ini lintas sektor, lintas ruang, dan lintas generasi. Karena itu, pencegahan harus dibangun melalui kolaborasi antara aparat keamanan, dunia pendidikan, keluarga, komunitas, hingga platform digital,” ujar Kepala BNPT.

Ia menilai pendekatan preventif menjadi penting agar negara mampu membangun ketahanan masyarakat sebelum ancaman berkembang menjadi tindakan nyata.

Di sisi lain, Kadensus 88 AT Polri, Irjen Pol. Sentot Prasetyo, menekankan bahwa Densus 88 terus memperkuat strategi penanggulangan yang lebih adaptif seiring perubahan pola ancaman.

“Kami melihat langsung bagaimana pola ekstremisme berubah. Ancaman kini lebih cair, lebih personal, dan sering kali berawal dari paparan digital yang tidak terdeteksi. Karena itu, pendekatan penanggulangan harus semakin berbasis pencegahan, asesmen risiko, dan perlindungan kelompok rentan,” kata Irjen Pol. Sentot Prasetyo.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya penguatan deteksi dini terhadap kerentanan anak dan remaja yang menjadi kelompok paling rentan terhadap paparan ekstremisme digital.

Dalam forum tersebut, para akademisi memberikan apresiasi terhadap substansi buku “Gamifikasi Kekerasan dalam Teror Modern di Era Digital”, sekaligus menyampaikan sejumlah catatan kritis agar strategi pencegahan ekstremisme lebih adaptif, berbasis bukti ilmiah, dan tetap menjunjung prinsip perlindungan masyarakat.

Radikalisasi di Era Digital Tidak Lagi Selalu Bertahap

Psikolog forensik Dr. Zora Arfina Sukabdi menilai buku tersebut memperkaya teori counter-terrorism yang selama ini digunakan. Menurutnya, proses radikalisasi di era digital tidak selalu berlangsung bertahap sebagaimana teori klasik, tetapi dapat mengalami lompatan cepat akibat intensitas paparan digital.

Ia menyoroti kerentanan generasi muda yang mengalami alienasi sosial, perasaan tidak terlihat (invisible), hingga kehilangan makna, yang dapat menjadi pintu masuk narasi ekstrem.

Ekstremisme Modern Kini Dibentuk oleh Algoritma dan Identitas Digital

Guru Besar hukum pidana Prof. Harkristuti Harkrisnowo, S.H., M.A., Ph.D. menilai kelompok ekstrem modern tidak lagi sekadar membangun propaganda, tetapi juga pengalaman emosional, identitas kelompok, dan keterikatan psikologis yang menarik bagi generasi digital.

Ia mengingatkan agar strategi penanggulangan tetap berpijak pada hak asasi manusia dan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy).

Luka Psikologis Bisa Menjadi Pintu Masuk Radikalisasi

Psikolog forensik Dra. Adityana Kasandra Putranto menyoroti bahwa akar kerentanan terhadap radikalisasi sering kali bukan hanya konten ekstrem, tetapi riwayat perundungan, krisis identitas, hingga keterasingan sosial yang tidak tertangani.

Menurutnya, intervensi perlu mencakup pendekatan klinis dan penguatan kesehatan mental, bukan hanya kontra-radikalisasi.

AI dan Analisis Data Didorong Jadi Instrumen Deteksi Dini

Pakar analisis data Dr. Ismail Fahmi menekankan perlunya kolaborasi antara aparat dan komunitas riset untuk membangun sistem deteksi dini berbasis kecerdasan buatan, guna mengenali anomali perilaku digital sebelum berkembang menjadi ancaman.

Meski berasal dari disiplin berbeda, para akademisi menyampaikan satu benang merah yang sama: terorisme modern tidak lagi dapat dipahami dengan pola lama.

Ancaman kini bergerak melalui ruang digital, dipengaruhi algoritma, kondisi psikologis, budaya visual, hingga dinamika sosial yang semakin kompleks. Karena itu, penanganannya membutuhkan sinergi psikologi, pendidikan, hukum, teknologi, perlindungan anak, dan masyarakat.

Rakernis Densus 88 AT Polri Tahun Anggaran 2026 menjadi momentum memperkuat strategi penanggulangan terorisme yang lebih prediktif, preventif, dan berbasis ilmu pengetahuan, sejalan dengan arah Transformasi Polri dalam menjaga keamanan nasional menghadapi perubahan ancaman global.

Karena ancaman yang berubah menuntut cara memahami dan mencegahnya ikut berubah.