Indikator: Kepuasan publik mudik Lebaran 2026 capai 80,8 persen

Jakarta (ANTARA) – Tingkat kepuasan publik terhadap penyelenggaraan mudik Lebaran 2026 mencapai 80,8 persen, berdasarkan hasil survei Indikator Politik Indonesia, yang mencerminkan evaluasi positif terhadap layanan pemerintah di tengah mobilitas sekitar 47 juta warga.

Founder sekaligus Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengatakan, penilaian tersebut berasal dari seluruh responden, baik yang melakukan mudik maupun tidak.

“Tingkat kepuasan masyarakat secara umum terhadap penyelenggaraan mudik Lebaran 2026 mencapai 80,8 persen,” ujarnya dalam rilis temuan survei bertajuk Evaluasi Publik terhadap Penyelenggaraan Mudik Lebaran 2026 yang diikuti secara daring di Jakarta, Selasa.

Di kalangan pemudik, tingkat kepuasan tercatat lebih tinggi, yakni 85,3 persen, yang merupakan gabungan dari responden yang menyatakan sangat puas dan cukup puas.
Menurut Burhanuddin, perbedaan tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh sumber informasi yang diperoleh responden.

“Perbedaan ini kemungkinan karena mereka yang tidak mudik menilai dari media, yang cenderung menyoroti peristiwa negatif seperti kemacetan,” katanya.

Ia menambahkan, capaian tersebut relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada kisaran 80 hingga 81 persen. Bahkan, sekitar 81 persen responden menilai pengaturan arus mudik tahun ini lebih baik dibandingkan tahun lalu. Penilaian dari kalangan pemudik sedikit lebih tinggi, yakni mencapai 82,7 persen.

Selain itu, persepsi terhadap keselamatan juga menunjukkan tren positif. Sebanyak 79,8 persen responden menyatakan setuju atau sangat setuju bahwa angka kecelakaan lalu lintas selama periode mudik mengalami penurunan, baik untuk kategori ringan, sedang, maupun fatal.
Survei yang dilakukan pada 29 Maret hingga 4 April 2026 terhadap 1.200 responden, dengan margin of error sekitar ±2,9 persen, juga menunjukkan bahwa penilaian positif relatif merata di berbagai kelompok demografi.

“Semua kelompok demografi, berdasarkan usia, gender, pendidikan, pendapatan, hingga wilayah, cenderung memberikan evaluasi positif,” ujar Burhanuddin.

Menariknya, responden yang aktif mengakses media sosial justru menunjukkan tingkat kepuasan lebih tinggi, seperti pengguna Instagram yang mencapai 88 persen dan WhatsApp sekitar 83 persen.
Sebaliknya, pembaca media konvensional seperti koran cenderung lebih kritis, dengan tingkat kepuasan sekitar 70 persen.

Meski demikian, Burhanuddin menekankan bahwa evaluasi publik tetap menjadi instrumen penting untuk mengukur kualitas layanan lintas sektor, termasuk transportasi dan keselamatan.

“Untuk itu, kita memerlukan metode sistematik untuk mengukur sejauh mana layanan publik tersebut dievaluasi positif atau negatif oleh masyarakat,” ujarnya.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three × 5 =